Melamin, Piring Cantik yang Menyimpan Racun

Di banyak toko yang menjual perabot rumah tangga, peralatan makan dan

minum yang disebut melamin relatif mudah ditemukan.

Kalau sekitar tahun 1970-1980-an melamin masih terbatas warna maupun

coraknya, maka kini desain melamin bisa bersaing dengan barang pecah belah

lainnya.

Produk pecah belah melamin begitu banyaknya sehingga barang ini tak

hanya bisa dibeli di toko tertentu, tetapi juga di pasar tradisional

sampai di pedagang kaki lima.

Cikal bakal melamin dimulai tahun 1907 ketika ilmuwan kimia asal Belgia,

Leo Hendrik Baekeland, berhasil menemukan plastik sintesis pertama yang

disebut bakelite. Penemuan itu merupakan salah satu peristiwa bersejarah

keberhasilan teknologi kimia awal abad ke-20.

Pada awalnya bakelite banyak digunakan sebagai bahan dasar pembuatan

telepon generasi pertama. Namun, pada perkembangannya kemudian, hasil

penemuan Baekeland dikembangkan dan dimanfaatkan pula dalam industri

peralatan rumah tangga. Salah satunya adalah sebagai bahan dasar peralatan

makan, seperti sendok, garpu, piring, gelas, cangkir, mangkuk, sendok sup,

dan tempayan, seperti yang dihasilkan dari melamin.

Peralatan makan yang terbuat dari melamin di satu sisi menawarkan banyak

kelebihan. Selain desain warna yang beragam dan menarik, fungsinya juga

lebih unggul dibanding peralatan makan lain yang terbuat dari keramik,

logam, atau kaca. Melamin lebih lebih ringan, kuat, dan tak mudah pecah.

Harga peralatan melamin pun relatif lebih murah dibanding yang terbuat

dari keramik misalnya.

Potensi formalin

Dengan segala kelebihan melamin, tak heran kalau sebagian orang tidak

menyadari bahwa melamin menyimpan potensi membahayakan bagi kesehatan

manusia.

Menurut pengajar pada Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam

Institut Teknologi Bandung, Bambang Ariwahjoedi PhD, MSc, melamin

berpotensi menghasilkan monomer beracun yang disebut formaldehid

(formalin).

Selain berfungsi sebagai bahan pengawet, formaldehid juga digunakan

untuk bahan baku melamin. Menurut Ariwahjoedi, melamin merupakan suatu

polimer, yaitu hasil persenyawaan kimia (polimerisasi) antara monomer

formaldehid dan fenol. Apabila kedua monomer itu bergabung, maka sifat

toxic dari formaldehid akan hilang karena telah terlebur menjadi satu

senyawa, yakni melamin.

Berdasarkan kerja sama penelitian antara Universitas Indonesia dan

Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI), diketahui kandungan formaldehid

dalam perkakas melamin mencapai 4,76?9,22 miligram per liter.

?Permasalahannya, dalam polimerisasi yang kurang sempurna dapat terjadi

residu, yaitu sisa monomer formaldehid atau fenol yang tidak bersenyawa

sehingga terjebak di dalam materi melamin. Sisa monomer formaldehid inilah

yang berbahaya bagi kesehatan apabila masuk dalam tubuh manusia,? ujar

Ariwahjoedi.

Dalam sistem produksi melamin yang tidak terkontrol, bahan formaldehid

yang digunakan cenderung tidak sebanding dengan jumlah fenol. Maka, kerap

terjadi residu.

Ini bukan berarti proses produksi yang sudah menerapkan well controlled

dan tidak menghasilkan residu terbebas dari potensi mengeluarkan racun.

Menurut Ariwahjoedi, formaldehid di dalam senyawa melamin dapat muncul

kembali karena adanya peristiwa yang dinamakan depolimerisasi (degradasi).

Dalam peristiwa itu, partikel-partikel formaldehid kembali muncul sebagai

monomer, dan otomatis menghasilkan racun.

Ariwahjoedi menjelaskan, senyawa melamin sangat rentan terhadap panas

dan sinar ultraviolet. Keduanya sangat berpotensi memicu terjadinya

depolimerisasi. Selain itu, gesekan-gesekan dan abrasi terhadap permukaan

melamin juga berpotensi mengakibatkan lepasnya partikel formaldehid.

Ariwahjoedi menambahkan, formaldehid sangat mudah masuk ke tubuh

manusia, terutama secara oral (mulut). Formaldehid juga dapat masuk

melalui saluran pernapasan dan cairan tubuh.

Monomer formaldehid yang masuk ke tubuh manusia berpotensi membahayakan

kesehatan. ?Formalin kan berfungsi untuk membunuh bakteri. Kalau bakteri

saja tidak bisa hidup, berarti tinggal selangkah lagi meracuni makhluk

yang lain,? ungkapnya berilustrasi.

Formaldehid yang masuk ke dalam tubuh dapat mengganggu fungsi sel,

bahkan dapat pula mengakibatkan kematian sel.

Dalam jangka pendek, hal ini bisa mengakibatkan gejala berupa muntah,

diare, dan kencing bercampur darah. Sementara untuk jangka panjang,

akumulasi formaldehid yang berlebih dapat mengakibatkan iritasi lambung,

gangguan fungsi otak dan sumsum tulang belakang. Bahkan, fatalnya dapat

mengakibatkan kanker (karsinogenik).

Tinggalkan komentar

Filed under Kesehatan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s